oleh

Wakil Ketua DPRA Prihatin Kasus Kekerasan Seksual di Aceh

Banda Aceh-Wakil Ketua DPRA, Safaruddin S.Sos MSP merasa prihatin dengan berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini di Aceh. Terutama kasus penyekapan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur oleh 14 pemuda di Kabupaten Nagan Raya yang dinilainya sangat tidak manusiawi.

“Jujur saya katakan, ini menjadi keprihatinan kita bersama,” kata Safaruddin saat bersilaturahmi dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh di kantor PWI Aceh, di Banda Aceh, Jum’at (24/12/2021).

“Kita sudah berkomitmen, jalan hidup kita bersyariat. Tapi coba kita lihat pola kehidupan kita tidak seperti daerah yang tidak bersyariat,” ungkap Safaruddin.

Politikus Partai Gerindra ini menduga kekerasan seksual terus merajalela di Aceh disebabkan lengahnya pengawasan baik dari orang tua, lingkungan, maupun pemerintah.

“Dulu kita tidak pernah dengar kasus-kasus seperti ini. Sekarang ada kasus ayah setubuhi anaknya, kakek dengan cucunya, anak dengan tetangganya,” ungkapnya miris.

Kondisi ini, menurut Safaruddin, menunjukkan Aceh sedang darurat kekerasan seksual. Kondisi ini harus menjadi perhatian semua pihak.

Disisi lain, hukuman yang diberikan kepada pelaku selama ini juga dinilai masih lemah dan tidak memberi efek jera bagi pelaku. Karena itu, kedudukan Qanun Aceh tengang Hukum Jinayah perlu diperkuatkan lagi.

“Saat ini revisi Qanun Hukum Jinayah sudah masuk agenda revisi agar diperkuat lagi bagian hukum yang lemah. Tapi ini juga bukan satu solusi untuk menuntaskan persoalan tapi kita coba mencari format,” ujarnya.

Disisi lain, Safaruddin juga menyampaikan, selama ini penguatan nilai-nilai religius dalam gampong mulai luntur sehingga anak-anak rentan terpengaruh prilaku negatif seperti sabu-sabu dan pergaulan bebas.

Untuk membendung persoalan ini, menurut Safaruddin dibutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari orang tua, guru, ulama, hingga pemerintah.

“Kita berharap tidak ada lagi kasus-kasus amoral terjadi di daerah kita. Mari kita menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama dan syariat. Aceh harus menjadi perhatian bersama,” tutupnya. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed