oleh

Ponpes Darul Amanah Agara Butuh Perhatian, Siapa Peduli?

Aceh Tenggara-Miris, agaknya kalimat ini tepat untuk Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Amanah, Desa Tanjung Lama, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara.

Betapa tidak, kondisinya sangat memprihatinkan. Mulai soal sarana dan prasarana hingga kitab-kitab sudah dimakan usia.

Genap berusia 47 tahun pada 26 Juni 2021 lalu, daerah yang dijuluki Sepakat Segenap itu juga seakan belum lepas dari persoalan.

Pondok Pesantren yang sejatinya adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sampai sekarang tetap memberikan kontribusi penting di bidang sosial keagamaan.

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat pada masyarakat muslim Indonesia. Dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya serta memiliki model pendidikan multi aspek.

Namun, kondisi miris terhadap Pondok Pesantren yang menghadapi berbagai kendala baik dari sisi sarana maupun prasarana, dikhawatirkan proses pendidikan di lembaga pendidikan tidak sesuai harapan.

Kondisi ini pula yang dihadapi Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Amanah, Desa Tanjung Lama, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara.

Pesantren yang dipimpin Ustadz Solihin asal bogor ini menjadi perhatian setelah balai pengajian, sumur tempat santri dan jamaah berwudhu tidak layak, ditambah lagi Alqur’an dan Kitabnya kini sudah banyak yang rusak.

Kedatangan Ustadz Solihin ke Kabupaten Aceh Tenggara delapan tahun lalu, dengan misi mencerdaskan Masyarakat sekitar dengan dakwah islam.

Guru mulia untuk Majlis Ta’lim Darul Amanah Agara ini mempunyai misi dengan mendekatkan anak muda desa yang ada di kabupaten Aceh Tenggara, agar lebih dekat dengan islam dan menjauhi perbuatan tercela dengan mengajar fiqih, membaca Alquran dan kitab Islam lainnya.

Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Tenggara, berkesempatan hadir mencoba menginap di Pesantren Darul Amanah.

“Kami melihat begitu besarnya jiwa dakwah pengurus dan asatidz dari pesantren darul amanah ini. Mirisnya keadaan santri jamaah dan anak-anak pesantren tempat untuk tempat bermalamnya mirip bilik yang berbalutkan kardus dan ber alaskan sajadah,” ujar Reza Tafta Prawira kepada Wartawan, Senin (05/07/2021).

Dirinya mengaku sangat terenyuh melihat kondisi ini, semangat juang berdakwah mereka tak pernah surut walau insfrastruktur yang tak memadai.” Katanya.

Majlis Ta’lim Darul Amanah (MTDA) di Desa Tanjung lama tempat Solihin mengabdikan diri ini sangat butuh sekali bantuan maupun dukungan, dari segi insfrastruktur, sumur yang masih kurang layak, dan alat pendukung seperti Alquran, Buku Fiqih dan lainnya.

“Di akhir kami menginap saya sempat bertanya kepada ustadz Solihin, yang kebetulan masuk Program Sahabat Da’i Indonesia,” ucapnya.

Dalam diskusi kecil antara dirinya dengan Ustadz Solihin, ia sempat bertanya harapan kelak kedepan.Ustadz Solihin menjawab ia berharap kiranya MRI-ACT selalu bisa mendukung dalam dakwah.

“Alhamdulillah perlahan semakin membaik, delapan tahun saya disini dan di bantu guru terdahulu sebelum saya, semoga Allah SWT memudahkan ikhtiar kebaikan kita,” kata Reza Tafta Prawira, Ketua MRI-ACT Agara. []

(Editor     | Redaksi)
(Laporan | Riko Hermanda)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed