oleh

Pj Gubernur Aceh Makan Siang Bersama Ratusan Yatim dan Tuna Netra

Banda Aceh-Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Achmad Marzuki bersama istri Ny Ayu Marzuki makan siang bersama sebanyak 350 anak yatim dan yatim piatu, di Anjong Mon Mata, komplek Meuligoe Gubernur Aceh, Selasa (19/07/2022) siang.

Bersama sang istri, Pj Gubernur menyapa beberapa bocah dan mendampingi mereka saat menuju meja prasmanan. “Ayo makan yang banyak, kalau kurang kenyang tambah lagi,” ujar Achmad Marzuki dalam nada ramah, pada para bocah yang telah mengantri dengan tertib.

“Ini sudah kelas berapa? Suka maen bola gak?” tanya Pj Gubernur pada salah seorang bocah yang selama ini dibina di Yayasan SOS Children Villages.

“Ini satu sekolah semua ya? Ayo sudah hafal berapa jus?” tanya Ny Ayu Marzuki, pada barisan siswi yang mengenakan seragam serupa.
Usai makan siang bersama, para anak yatim dan yatim piatu langsung bertolak kembali ke panti dan gampong masing-masing. Sebelum pulang, setiap bocah menerima bingkisan dari Pj Gubernur dan Pj Ketua TP PKK Aceh.

Kursi Roda untuk M Aziz Ramadhan

Mimik wajah Pj Gubernur dan istri langsung berubah sendu saat M Aziz Ramadhan, bocah Tuna Daksa asal Gampong Peuniti yang tertatih dan di papah pendamping datang menyalami. Achmad Marzuki langsung memerintahkan pendamping untuk menghubungi Dinas Sosial agar segera memberikan bantuan kursi roda untuk Aziz.

“Ini bisa dibantu kursi roda kan?” tanya Pj Gubernur kepada Kabag Materi dan Komunikasi Pimpinan Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh M Gade, yang turut mendampingi Gubernur menyerahkan bingkisan.

“Bisa Pak, segera kami hubungi Dinas Sosial,” jawab M Gade singkat.

“Segera ini, paling lama dua hari harus sudah diserahkan,” ujar Pj Gubernur.

Usai menyerahkan santunan kepada para anak yatim dan yatim piatu. Pj Gubernur selanjutnya menghampiri sejumlah Tuna Netra yang selama ini di bina di Rumoh Seujahtra Beujroh Meukarya Dinas Sosial Aceh, untuk menyerahkan bingkisan dan berdialog.

Anak yatim dan yatim piatu yang makan siang bersama Gubernur dan istri hari ini, berasal dari sejumlah yayasan dan gampong di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *