oleh

Panglima Perang Hingga Kepala Pemerintahan

PENAPOST.ID-Perempuan dalam pembangunan daerah khususnya di Aceh mempunyai peranan yang sangat penting.

Mengingat sejarah besar Aceh, telah menyebutkan keterlibatan perempuan Aceh dalam dunia perpolitikan mempunyai dampak yang besar pada kondisi tanah rencong terkini.

Kondisi digambarkan kembali oleh Gubernur Aceh yang diwakili Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh, Sumberdaya manusia dan Hubungan Kerjasama, Bukhari, saat membuka Rakerda Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Aceh Tahun 2021, Jumat (12/11/2021), di Banda Aceh.

Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh, Sumberdaya manusia dan Hubungan Kerjasama, Bukhari.

Ia mengatakan, perempuan Aceh tidak hanya tampil sebagai pendamping suami saja, melainkan juga turut berperan menjadi panglima perang, serta duduk sebagai kepala Pemerintahan.

Sebagaimana Ratu Nahrasiyah menjabat sebagai Sultanah pertama di Aceh yang memimpin Kerajaan Samudra Pasai dengan dasar konsep kesetaraan gender.

“Kemudian, sejarah terus berlanjut ke masa kesultanan Darussalam, peran perempuan juga tidak pernah hilang dalam jejak sejarah Aceh. Bahkan Aceh pernah dipimpin Sultanah selama hampir 50 tahun, termasuk 34 tahun pada masa Pemerintahan Ratu Syafiatuddin,” katanya.

Semestinya, kata Bukhari fakta sejarah tersebut harus mampu memberikan dorongan bagi para wanita Aceh untuk terus bangkit memperjuangkan hak mereka diranah perpolitikan mulai dari pemberdayaan dan perlindungan kepada kaum perempuan sendiri

“Kenyataannya saat ini, peran perempuan dalam pembangunan di daerah kita masih sangat minim dan belum optimal. Di tengah kurangnya peran tersebut ironisnya tingkat kekerasan terhadap perempuan terus meningkat,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta agar para perempuan Aceh harus terus bergerak melakukan perubahan dengan melakukan peningkatan kapasitas diri, sehingga hak -hak yang diperjuangkan dapat berjalan sesuai harapan dan lebih optimal.

“Maka itu, kita perlu mendorong hadirnya tokoh dan organisasi yang peduli dengan nasib perempuan, sehingga suara perempuan lebih diperhitungkan,” katanya lagi. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed