oleh

KLHK Dikritik karena Lepas Eks Bupati Bener Meriah

Banda Aceh-Eks Bupati Bener Meriah, Aceh, Ahmadi dipulangkan dan hanya dikenakan wajib lapor setelah ditangkap Balai Gakkum KLHK Sumatera karena kedapatan hendak menjual kulit harimau. Lembaga Suar Galang Keadilan (LSGK) mempertanyakan profesionalitas lembaga tersebut.

“Tindakan ini menimbulkan pertanyaan bahkan kecurigaan bagi publik, atas dasar apa kedua terduga dapat dilepaskan. Bukannya ketika dilakukan penangkapan juga ditemukan barang bukti berupa kulit dan tulang belulang harimau Sumatera dari kedua terduga,” kata Manager Program LSGK, Missi Muizzan dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (27/5/2022).

LSGK meyakini tim dari Balai Gakkum telah memiliki bukti permulaan yang cukup sehingga kedua terduga ditangkap dan dibawa ke Polda Aceh. Selain itu, penangkapan juga disebut telah memenuhi unsur tindak pidana sebagaimana pasal 1 angka 20 KUHAP.

Missi mempertanyakan keseriusan dan komitmen KLHK terkait penegakan hukum terhadap Ahmadi dan S terkait dugaan penjualan kulit harimau. Dia mendesak Polda Aceh mengambil alih kasus itu bila Balai Gakkum tidak mampu menanganinya.

Dia juga mempertanyakan kedudukan barang bukti yang kini masih ada di tangah Gakkum.

“Apabila Balai Gakkum Wilayah Sumatera tidak mampu menangani perkara tersebut maka perkara ini bisa diambil alih oleh pihak Polda Aceh maupun pihak Mabes Polri,” lanjutnya.

Sebelumnya, penangkapan Ahmadi dan S dilakukan pada di SPBU Pondok, di Kecamatan Bandar, Bener Meriah, Selasa (24/5) sekitar pukul 04.30 WIB. Keduanya diciduk tim Brigade Macan Tutul Seksi Wilayah I Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dan Polda Aceh.

Dalam penangkapan itu, tim menyita satu kulit harimau serta tulang belulang tanpa gigi taring. Subhan mengatakan, penjualan kulit harimau itu diduga melibatkan tiga orang di Bener Meriah.

“Satu orang lagi yang diduga pelaku utama berinisial I berhasil melarikan diri,” jelas Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Subhan.

Subhan mengatakan, penyidik telah memeriksa dua orang itu serta melakukan gelar perkara di ruang rapat Polda Aceh. Penyidik menilai masih perlu memeriksa saksi lain untuk mengungkap kasus tersebut.

“Perlu dilakukan pemeriksaan saksi-saksi tambahan untuk meningkatkan status kedua orang tersebut,” jelas Subhan. []

(Sumber | DETIK.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *